Budaya
Trending

Pusat Oleh-Oleh Pasar Bengkel Perbaungan,

Pusat Oleh-Oleh Pasar Bengkel Perbaungan, Ikon Sergai yang Harus Bangkit

SERDANG BEDAGAI – Nama Desa Pasar Bengkel di Kecamatan Perbaungan dikenal karena di sana ada pusat penjualan makanan atau oleh-oleh yang khas seperti dodol. Namun, usaha yang digeluti masyarakat sejak puluhan tahun lalu itu, saat ini mengalami kelesuanakibat jumlah pelanggan yang kian menurun drastis.

Penyebab yang mengemuka di masyarakat adalah karena menurunnya daya beli. Namun yang paling banyak dirasakan, sejak beroperasinya Jalan Tol Medan-Tebing Tinggi, Oktober 2017. Sebab kendaraan yang biasanya melintasi Jalan Lintas Sumatera, banyak yang mengalihkan jalurnya menggunakan ruas jalan tol, dan tak lagi melewati pusat jajanan dan oleh-oleh khas Sergai ini.

Hampir tidak ada yang dapat dilakukan lagi oleh para pedagang di sepanjang Jalinsum di Desa Pasar Bengkel itu. Sebagian terlihat masih bertahan dengan kondisi sekarang, meskipun pengurangan omset terjadi hingga mencapai 50-80 persen dari pendapatan sebelumtahun 2017 atau saat mulai dibukanya jalan tol. Bahkan dari 80-an jumlah kios dodol yang ada, kini 40-an kios terlihat tutup, karena usaha ini tidak lagi mendatangkan untung akibat sepinya pembeli.

Pendiri usaha dodol Sejahtera, Ibu Hj Halimah Sinaga (65) telah berjualan sejak tahun 80-an silam. Memulai usaha berjualan dodol di desa itu bermodalkan pengalaman membuat makanan tradisional tersebut. Belajar dari pendahulunya, Ibu enam anak ini pun mencoba membuka lapak jualan di tepi jalan, tidak jauh dari tempatnya tinggal sekarang. Respon yang baik dari masyarakat, membuatnya meyakini bahwa dagangannya akan diminati orang.

“Dulu sekitar tahun 80-an kami buka jualan dodol ini. Waktu itu baru ada empat sampai lima kios dan pembuat dodol di sini. Jadi uak (paman) kami yang pandai buat, dia yang mengajari,” kata Hj Halimah saat ditemui di kediamannya.

Alhamdulillah, usah yang dirintis Hj Halimah mampu bertahan dan berkembang. Hingga pada 90-an, kios dodol miliknya mengalami kemajuan dan mereka pun mulai memberikan nama usaha Dodol Si Unyil, yang terinspirasi dari film seri anak-anak yang tayang di TVRI saat itu.

“Setelah Si Unyil, anak saya protes karena namanya lucu. Jadi ditambah namaya Unyil Sejahtera. Tetapi terakhir kita buat namanya jadi Dodol Sejahtera, berharap semoga kita bisa sejahtera dari usaha berjualan dodol ini,” ujar Halimah yang kesulitan berjalan karena pengapuran yang dialaminya sejak dua tahun lalu.

Meskipun sekarang sepi pembeli, Halimah masih optimis produknya masih bisa diterima masyarakat. Sebab katanya, kualitas dodol miliknya punya citarasa yang tinggi. Mulai dari pilihan bahan-bahan, ukuran dan pengolahan, menurutnya sangat mempengaruhi rasa. Karena baginya, pembelilah yang menilai bagus tidaknya sebuaproduk.

Pun begitu, sepinya pembeli di Pusat Jajanan Dodol Desa Pasar Bengkel tak membuat Halimah dan anaknya menyerah. Mengandalkan kualitas produk olahan mereka, nama Dodol Sejahtera kemudian mendapat perhatian dari berbagai pengusaha di Kota Medan yang menerima dodol mereka untuk dipajang dan dijual di toko atau swalayan. Sehingga pangsa pasarnya tetap ada.

Tetapi mungkin tidak semua pedagang seperti mereka. Bahkan bisa saja seiring waktu berjalan, satu persatu kios yang sebagian besar sempat berjaya di era 2000-2017, bergilir tutup atau gulung tikar dan yang tersisa hanya kenangan dari kejayaan masa lalu. Walaupun dari usaha itu, mulai dari biaya hidup hingga menyekolahkan anak sampai tingkat perguruan tinggi, mampu dilakoni Halimah.

Penurunan omset pun diakui Halimah sejak dioperasikannya Jalan Tol Medan-Tebing Tinggi. Kendaraan roda empat atau lebih, yang menjadi harapan mereka bisa singgah di kios-kios sepanjang jalan itu, kini sudah berkurang drastis. Begitu juga saat lebaran atau hari libur panjang, peningkatan penjualan juga tidak meningkat seperti sebelumnya.

“Sebelum ada (jalan) tol, seminggu sebelum lebaran (mulai H-7), kita produksi bisa sampai 60-80 kuali dalam seminggu. Bahkan penjualan sempat mencapai Rp100 juta seminggu. Tetapi sekarang ini, saat lebaran kemarin produksinya hanya 20 kuali seminggu,” tambah Halimah.

Hal sama dirasakan Baniah (52), pemilik Kios Dodol Nining. Berjualan sejak 90-an, dirinya memilih bertahan meskipun pembeli yang datang tidak lagi seramai saat sebelum ada jalan tol. Dirinya yang biasa memproduksi dodol sampai 6 kuali satu hari, kini jumlahnya berkurang drastis. Produksi dodol hanya dilakukan sekali dalam sepekan.

“Syukurlah anak-anak sudah tamat kuliah. Jadi ya tidak begitu berat lagi. Saya berjualan (bertahan) ini untuk menjaga kesehatan. Daripada tidak ada kegiatan, kan bisa bikin sakit. Makanya walaupun sedikit, ya tetap jualan saja,” katanya.

Baik Hj Halimah maupun Baniah, keduanya punya harapan yang sama. Agar pemerintah yang juga sejak awal mendukung keberadaan pusat jajanan tersebut, membantu mencari jalan agar mereka bisa tetap berjualan dan nama Dodol Bengkel yang sudah dikenal sejak lama, tidak tinggal kenangan.

Bagi mereka, jika jalan tol adalah kebutuhan bersama, maka keberadaannya juga perlu memperhatikan nasib orang lain yang terkena dampat pembanguan sarana infrastruktur tersebut.

Sementara Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), mencatat sekitar 50 persen dari kios yang ada di sana, telah gulung tikar. Sebab kendaraan bus dan pribadi yang biasanya singgah di tempat itu, kini sudah lebih banyak memilih menggunakan jalan tol dari Tebing Tinggi menuju Medan dan sebaliknya.

“Kita tetap ada upaya, mulai dari pelatihan seperti memasarkan penjualan melalui online (daring). Kemudian pembinaan kualitas dodol, bagaimana kemasannya agar daya tarik bagi masyarakat lebih baik. Saat ini untuk penjualan online, sudah ada 10 kios yang ikut pembinaan,” ujar Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Industri, Disperindag Sergai Enny Darlina S.

Sedangkan untuk wacana penempatan pedagang di kawasan tempat beristirahat (rest area) sekitar Jalan Tol, Pemkab Sergai disebutkan telah melakukan upaya agar usulan tersebut bisa diterima oleh pihak pengelola jalan tol. Namun belum diketahui bagaimana perkembangan selanjutnya , termasuk besaran tarif sewa lapak yang akan ditetapkan nantinya.

“Kita juga berharap Pemerintah Provinsi ikut membantu,” pungkasnya.

Kini, Pusat Jajanan Dodol Bengkel terlihat lesu dan sepi. Hanya beberapa mobil kendaraan umum yang singah sebentar untuk beristirahat di sejumlah kios. Sesekali mobil pribadi juga menepi. Namun jumlahnya tidak sebanyak sebelum dibukanya jalan tol. Begitu juga intensitas kendaraan yang melintas di kawasan itu, sudah didominasi truk dan kendaraan ukuran besar lainnya.

Dodol Pasar Bengkel pernah tersohor, pernah berjaya. Sekarang para pedagang mengeluh dan mengharapkan ada solusi yang baik, agar mereka bisa bertahan. Jika tidak, ikon Sergai ini hanya tinggal kenangan lusuh, seperti lusuhnya puluhan kios berdebu yang tutup dan gulung tikar. (*)

Tags
Lihat Lainnya

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close