MTQ NasionalPeristiwa

Pengalaman Mantan Qoriah Internasional Rela Menempuh Jarak 200 Kilometer, Demi Belajar Mengaji

Ibarat sebuah ungkapan, Man Jadda Wajada, Barangsiapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil, inilah yang dilakukan salah seorang mantan qoriah asal Palu, Sulawesi Tengah, Masriah Abdul Gani. Peraih peringkat ketiga juara tilawah mewakili Indonesia di MTQ Internasional yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia tahun 1994 ini, ternyata memiliki tantangan yang luar biasa untuk mampu melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dengan baik.

Saat ditemui disela-sela kegiatan lomba Tilawah Alquran tingkat Anak yang digelar di Lapangan Merdeka Medan, Minggu (7/10), Masriah mengungkapkan bahwa ia merupakan pemenang Tilawah Alquran pada MTQN di Palu, Sulawesi Tengah tahun 1993. Kemudian  tahun berikutnya meraih peringkat ketiga untuk tingkat internasional. Ia berhasil membawa harum nama Sulteng di tingkat internasional. Meski belum berhasil menjadi terbaik pertama, di tahun 1995, Masriah kembali berlaga di internasional. Hasilnya, ia meraih satu peringkat lebih atas dari sebelumnya yakni peringkat dua tingkat internasional.

 Prestasi yang diraih Masriah patut diteladani. Terutama kerja kerasnya yang tak kenal lelah. Masriah mengisahkan bahwa ia harus menempuh jarak 200 kilometer untuk belajar mengaji. Baginya menggali ilmu dengan ustaz di kampung tempat tinggalnya masih belum cukup. Ia memperdalam ilmu mengaji lagi hingga ke kota Palu. Sejak SMP, Masriah sudah tinggal di Palu untuk belajar mengaji dengan Ustaz Mahmud Lamalundu. Dari SMP hingga ia menikah, ia tak berhenti belajar mengaji, berlatih menyanyikan lantunan ayat Alquran, belajar tajwid, hingga fashahah.

Dari kecil hingga SMP, Masriah tinggal di Kecamatan Tinombo Kabupaten Parigimoutong, Sulawesi Tengah. Dari kampungnya itu ke Palu berjarak 200 kilometer. “Yang melatih dasar saya mengaji itu ayah saya Abdul Gani. Kemudian belajar dengan Ustaz Jabir Saus. Selanjutnya SMP sampai menikah saya belajar mengaji di Palu. Di sana akhirnya saya juara MTQ nasional,” ucap qori yang saat ini berprofesi sebagai PNS di Kementerian Agama Sulteng.

Prinsip ia adalah mendatangi guru mengaji, bukan guru yang mendatangi kita. “Ini yang tidak ada dengan anak sekarang. Kami dulu aktif mendatangi guru mengaji. Kalau perlu bayar mahal, bayar. Beda dengan anak-anak saat ini,” ucapnya.

Dari juara yang ia raih, Masriah akhirnya diberangkatkan ke Tanah Suci, Mekkah oleh pemerintah. Kesempatan yang tak ia sangka sebelumnya. Ibu dengan empat orang anak ini juga diangkat menjadi PNS di Kementerian Agama dari hasil prestasinya tersebut.

“Seharusnya saat ini pemerintah juga lebih bisa memperhatikan hadiah para juara qori dan qoriah kita. Saya yang dua tahun juara di internasional hadiahnya masih belum sebanding dengan atlet-atlet Asian Games. Semoga ke depan qori dan qoriah kita yang memperoleh prestasi di internasional mendapatkan hadiah dan bonus yang cukup besar juga,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Ia berpesan agar peserta yang mengikuti ajang MTQN XXVII ini dapat terus dan terus belajar mengaji dan membumikan Alquran.

“Secara kualitas sebenarnya untuk tilawah bagus-bagus. Terutama saat mereka menyanyikan (melantunkan) ayat suci Alquran tersebut. Hanya saja sebenarnya masih bisa lebih bagus lagi dari qori dan qoriah tahun-tahun lalu, mengingat fasilitas dan pembelajaran qori dan qoriah saat ini lebih mudah dan memadai,” kata qoriah kelahiran 1969 tersebut.

Tags
Lihat Lainnya

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close