Berita Daerah

Nelayan Lebih Sejahtera Berkat Bantuan Pemprovsu

Sumatera Utara berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan Selat Malaka. Sehingga menyebabkan Sumatera Utara memiliki pesisir Timur dan Barat

Sumatera Utara berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan Selat Malaka. Sehingga menyebabkan Sumatera Utara memiliki pesisir Timur dan Barat. Panjang Pantai Timur seluas 545 Km sedangkan luas Panjang Pantai Barat 375 Km dan Kepulauan Nias dan Pulau-Pulau Baru Sepanjang 350 Km.

Sumatera Utara juga memiliki potensi perikanan dari kegiatan penangkapan ikan yang besar. Potensi Selat Malaka sebesar 276.030 ton/tahun, sedangkan di Samudera Hindia sebesar 1.076.960 ton/tahun.

Lantaran hal itu, jumlah kapal nelayan di Sumatera Utara cukup banyak. Sampai tahun 2016, jumlah kapal nelayan termasuk motor dan tanpa motor di Sumut berjumlah 33.907 unit. Jumlah nelayan di Sumatera Utara sendiri berjumlah 234.405 orang.

Nelayan merupakan salah satu faktor kunci dalam pengembangan sektor perikanan di Sumut. Namun profesi ini memiliki resiko tinggi. Bahkan tidak sedikit yang kehilangan nyawa saat melakukan profesi ini.

Selain itu tidak banyak nelayan yang memiliki kesejahteraan yang memadai untuk menopang hidupnya. Belum lagi biaya operasi tangkap yang tidak sedikit pula. Pun perubahan iklim ikut mempengaruhi jumlah tangkapan nelayan di Sumatera Utara.

Untuk meringankan beban dan meningkatkan kesejahteraan nelayan, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memberikan bantuan kepada nelayan. Bantuan diberikan dalam dua bentuk, yakni asuransi perlindungan terpadu dan pemberian alat tangkap.

Beberapa waktu lalu, Tim Media Kreatif Humas Pemprovsu berkesempatan mengunjungi nelayan yang mendapatkan hibah bantuan tersebut. Salah satunya adalah Hamimi.

Hamimi baru selesai menaikkan jaring-jaringnya ke atas perahunya. Ia hendak melaut sore hari sewaktu kami datang siang itu. “Biasalah pak, kalau berangkatnya jam segini. Tapi ada juga yang berangkat siang tadi sudah pulang,” ujarnya.

Hamimi adalah salah seorang penerima bantuan alat tangkap ikan. Tahun 2017 Hamimi dan kelompok nelayan Pantai Amanah Kabupaten Batubara mendapatkan jaring ikan senangin (Gillnet) dari Pemprovsu sebanyak 290 unit. Bantuan diberikan langsung oleh Gubernur Sumatera Utara, Ir H Tengku Erry Nuradi MSi.

Sebelumnya Hamimi dan kelompoknya hanya bermata pencarian sotong dan kepiting saja. Lantaran mereka hanya memiliki jaring khusus menangkap gurita dan kepiting saja. Jaring yang mereka punya tersebut tidak bisa menangkap tangkapan lain selain sotong dan kepiting.

 

Selain itu, sotong dan kepiting tidak bisa ditangkap setiap waktu. Ada waktu dan musim tertentu untuk menangkap sotong dan kepiting. Misalnya untuk menangkap kepiting, Hamimi harus berangkat ke laut pada siang hari saja. Sedangkan untuk gurita atau sotong, Hamimi bisa menangkapnya pada malam hari.

Namun jaring yang dimiliki Hamimi tidak bisa menangkap semua jenis tangkapan. Jaring yang dimiliki olehnya hanya bisa menangkap kepiting dan sotong saja. Sehingga Hamimi hanya mendapat pemasukan dari kepiting dan sotong saja.

Hal tersebut menyebabkan Hamimi tidak bisa melaut setiap waktu. Hingga akhirnya hanya mendapatkan pemasukan untuk rumah tangganya yang sedikit jika tidak melaut.

Sewaktu bantuan jaring (Gillnet) datang, Hamimi senang bukan main. Jaring atau alat tangkap yang diberikan, bisa menangkap ikan senangin. Ia dan nelayan lain tidak lagi menunggu waktu melaut lagi. Asal cuaca bagus dan aman, mereka bisa melaut. “Ikan senangin ini banyak malam,” ungkapnya.

Ikan senangin menjadi mata pencarian baru buat mereka. “Kami senang, sebelumnya pendapatan kami tidak seberapa, setelah ada jaring ini kami sangat terbantu,” kenang Hamimi.

Selain Gillnet, Gubsu juga memberikan bantuan asuransi perlindungan terpadu kepada nelayan. Ada 32.557 nelayan dari 234.405 nelayan di Sumatera Utara yang sudah mendapatkan asuransi perlindungan terpadu.

Oka Syarifudin sedang menimbang ikan yang hendak dijual ke pasar di rumahnya. Ia nelayan yang cukup dikenal masyarakat di kampungnya. Bahkan kadang, beberapa orang sengaja datang menemuinya untuk menengahi masalah. “Saya pernah pak, menengahi masalah rumah tangga orang,” katanya.

Oka Syarifudin adalah salah satu penerima asuransi dari pemprovsu yang disalurkan melalui Dinas Perikanan dan Kelautan Sumut. Ia dan kelompok nelayan Kuala Sipare Medang Deras Batubara menerima bantuan asuransi terpadu nelayan. Sejak mendapatkan asuransi nelayan terpadu (Paten) dari Pemprovsu, Oka dan nelayan lain tidak lagi takut saat melakukan profesinya.

“Keuntunganya bagi kami sangat besar sekali, karena dengan kartu asuransi, nelayan sudah tidak takut-takut lagi. Kalau nelayan meninggal ataupun kecelakaan ada asuransinya. Asuransi ini pun bukan hanya cerita. Kami sudah lihat langsung bagaimana cara klaimnya,” kenang Oka.

Klaim asuransi untuk kecelakaan sebesar nelayan mendapat Rp200 juta. Sedangkan nelayan yang cacat menerima biaya pengobatan sebesar Rp20 juta. “Tapi dengan catatan, klaim cuma bisa dilakukan jika nelayan mengalami kecelakaan saat melaut saja, di luar penangkapan tidak ditanggung asuransi,” kata Hamimi.

Hamimi dan Oka Syarifudin merupakan contoh masyarakat yang terbantu dari program bantuan Pemeirntah Provinsi Sumatera Utara. Tentu saja tidak hanya kelompok nelayan mereka saja yang menerima bantuan. Masih ada belasan ribu nelayan Sumatera Utara yang menerima bantuan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Hal tersebut bertujuan untuk memajukan potensi perikanan khususnya di sektor penangkapan ikan di Sumatera Utara. Selain itu untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan tradisional yang selama ini menopang sektor penangkapan ikan di Sumatera Utara. (*)

Tags
Lihat Lainnya

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close