Olahraga

Mereka yang Harus Selalu Sempurna

Rabu (15/08/18) lalu Tim Humas Sumut berkesempatan menyaksikan sesi latihan tim wushu taolu Indonesia jelang laga Asian Games 2018.  Bertempat di Jakarta International Expo, Kemayoran. Ada tujuh atlet wushu Taolu Indonesia yang mengikuti latihan sore itu. Tiga diantara atlet berasal dari Sumut. Yaitu ratu wushu, juara dunia Lindswell Kwok, Juwita Niza Wasni dan Harris Horatius.

Lindswell seperti biasa terlihat anggun, tak banyak bicara dan fokus. Bersama rekan-rekannya mereka tampak bersiap sebelum melakukan pemanasan dan peregangan. Parta atlet ini sebelumnya mengikuti Pelatnas di China. Latihan pun terus dilakukan sampai hari-hari terakhir jelang pertandingan.

Bagi saya, ini adalah kali pertama menyaksikan langsung pertunjukan seni bela diri wushu. Sebelumnya, saya hanya tau wushu dari berita  di media. Menyaksikan sesi latihan tim wushu Indonesia sore itu sungguh sebuah pengalaman yang menakjubkan. Berkali-kali mulut ini menganga dan berdecak kagum. Adrenalin meningkat tajam, jantung ikut berpacu, berdebar menyaksikan gerakan akrobatik para atlet. Dada ini ikut sesak melihat salto-salto mereka di udara. Khawatir selip, tidak mendarat mulus.

Mata ini pun jarang berkedip, karena gerakan mereka terkadang teramat cepat. Sekali berkedip, momen berharga menyaksikan keindahan gerakan bisa terlewat. Mereka bisa berputar di udara, menendang sambil terbang lantas mendarat anggun. Kadang hanya dengan satu kaki. Saya seperti menyaksikan aksi beladiri kung fu layaknya di film-film action negeri tirai bambu. Bayangkan, gerakannya lembut dan lambat, namun tiba-tiba bisa berubah menjadi seperti badai yang mengamuk. Cepat, kuat dan dahsyat. Kadang diiringi suara yang menggelegar.

Jadi sepanjang dua jam latihan yang diikuti tujuh atlet wushu Indonesia itu,  saya banyak terpana. Namun ada yang mencuri perhatian saya. Dia adalah Juwita Niza Wasni, atlet 22 tahun asal Medan. Gadis ini memulai debutnya sebagai atlet senam sejak kanak-kanak. Sebagai atlet wushu banyak prestasi yang sudah ditorehkannya di beberapa kali laga bergengsi. Terakhir ia meraih medali emas pada SEA Games 2017.  Pada ASIAN GAMES tahun  2014, Juwita juga  berhasil meraih emas. Prestasinya cukup bersinar.

Sepengamatan saya, sepanjang latihan berlangsung Juwita terlihat murung. Ia tak mampu menyembunyikan kegelisahannya. Beberapa pendaratan Juwita tidak sempurna. Dalam beberapa kali gerakan salto, teman satu timnya, Harris terlihat bersiap membantu kalau-kalau Juwita terjatuh.  Pada gerakan terakhirnya  Juwita terpincang keluar arena. Dia lantas terduduk lesu, kemudian terisak. Ibunya, yang berada di deretan penonton kemudian turun mengahampiri.

Keduanya berpelukan. Juwita menyandarkan kepala di pundak sang Ibu, larut dalam isakan tangis. Perempuan bak pedekar yang tadinya begitu perkasa, kini terlihat seperti gadis biasa. Sang Ibu terlihat menyabarkannya, memberikan usapan di punggung dan kepala. Pemandangan yang mengharukan. Mata saya ikut berkaca-kaca jadinya.

Belakangan saya baru tahu Juwita mengalami cidera lutut saat mengikuti Pelatnas di China. Itu rupanya penyebab kemurungannya, penyebab beberapa pendaratan tidak sempurna.

Melihat sosok Juwita sore itu, saya pun jadi terfikir, betapa beratnya  tugas dan beban yang ada di pundak para atlet kita. Mereka berjuang membela nama bangsa dan negaranya, menyampingkan kenyamanan diri. Mereka yang selalu dituntut harus sempurna.Gadis lain seumuran Juwita mungkin banyak menghabiskan waktunya nongkrong di cafe atau main hp sepuasnya. Tapi para atlet seperti Juwita, sejak kecil harus terus berpeluh, mengikuti berbagai latihan yang berat, dengan disiplin dan jadwal yang ketat. Tidak ada waktu berleha-leha. Di saat Pelatnas seperti ini, untuk bertemu orang-orang terkasih pun sulit. Meski didera cidera, para atlet kita pun tak boleh jera, tak bisa menyerah kalah. Lihat saja atlet Bulutangkis Anthony Sinisuka Ginting. Meski cidera kala laga final Bulutangkis Beregu, tak sedikit dari kita yang dengan kejam memberi kritikan tajam.

***

Sore itu, sehari sebelum ulang tahun Juwita. Kepada kami, Tim Humas Sumut, Bu Jainab, Ibu Juwita mengisahkan harapannya. Semoga ASIAN Games 2018 ini menjadi kado istimewa untuk sang Juwita hatinya. Harapannya tentu Juwita kembali mendulang emas seperti Asian Games 2014 lalu. Tapi bagi saya, dapat medali atau tidak, Juwita sudah luar biasa membanggakan, telah memberikan upaya terbaiknya untuk bangsa dan negara. Salut untuk seluruh atlet nasional yang berjuang pada ajang Asian Games 2018.  (Harvina Zuhra)
Tags
Lihat Lainnya

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close