Sumut MelalakWisata

Menjelajahi Habitat Orangutan di Bukit Lawang

Kabupaten Langkat memiliki destinasi wisata hutan yang selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan

LANGKAT – Kabupaten Langkat memiliki destinasi wisata hutan yang selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Selain Tangkahan, daerah ini juga memiliki wisata jelajah habitat orangutan di Bukit Lawang.

Destinasi Bukit Lawang terletak di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.  Tempat wisata yang masih satu kawasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser ini sudah banyak didatangi oleh turis mancanegara.

Meski pun sempat mati suri akibat bencana banjir bandang tahun 2003, sekarang Bukit Lawang kembali ramai apalagi pada saat-saat musim liburan. Turis mancanegara sengaja datang untuk dapat merasakan  beratnya trakking di Hutan Gunung Leuser yang menjadi habitat orangutan dan serunya merasakan sensasi menginap di pinggiran air aliran sungai Wampu.

Bukit lawang telah menjadi kawasan konservasi orangutan sejak tahun 1973. Tujuan dibentuknya tempat ini adalah untuk mencegah kepunahan orangutan akibat perburuan dan perusakan hutan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Kawasan tempat wisata Bukit Lawang dibelah oleh Sungai Bahorok yang merupakan anak sungai Wampu. Di kawasan tempat wisata ini pun terdapat beberapa goa yang terbentuk dari proses alam.

Pada umumnya wisatawan mancanegara mengunjungi objek wisata alam  Bukit Lawang untuk mengunjungi tempat penangkaran orangutan dan melakukan rafting di aliran sungai Bahorok.

Kali ini, selama dua hari, Selasa hingga Rabu (22-23/5) Tim peliputan Media Kreatif Biro Humas dan Keprotokolan Pemprovsu berkesempatan melakukan perjalanan untuk mendokumentasikan serta mempublikasikan objek wisata tersebut.

Selepas melaksanakan salat subuh tim bergerak dari Medan menuju Bukit Lawang dengan jarak tempuh 8,5 KM. Setelah beberapa jam beristrirahat dan melakukan persiapan serta meminta bantuan penduduk setempat tim akhirnya menelusuri hutan.

“Kalau kita sampai di dalam hutan udaranya sangat segar berbeda dengan disini,” kata Ndut sapaan warga sekitar yang bertindak sebagai pemandu wisata Tim.

Apa yang disampaikan pemandu ternyata benar adanya. Setelah sudah payah melewati jalan yang mendaki serta menelusuri pepohonan yang menjulang tinggi  udara terasa sudah berbeda. Walau nafas yang tak beraturan karena melakukan trakking, seolah-olah menyatakan tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan. Namun, rasa ingin tahu akhirnya kaki terus melangkah untuk melanjutkan perjalanan.

Rasa capekpun terbalas ketika itu seekor monyet berwarna hitam dan dengan jambul berwarna putih atau akrab dengan sapaan Thomas bergantungan menyapa tim.  Bekal pisang yang segaja dipersiapkan tak lupa dikeluarkan untuk memberi makan monyet yang dengan tanpa malu menyambar pisang ditangan salah satu tim.

“Ini namanya Thomas spesies monyet ini hanya memang ada di sini,” kata pemandu perjalanan saat mengenalkan Thomas.

Perjalananpun dilanjutkan untuk menemui orangutan yang menjadi target Tim. Namun, karena hampir menjelang sore belum satupun orangutan yang dapat ditemui tim. Rasa gelisah dan khawatir membuncah apalagi angin kencang  yang membuat tim merinding dan was was.

Namun, rasa was-was sedikit berkurang dengan melihat panorama keindahan hutan tatkala tim melintasi jembatan  di antara pepohonan besar. Jembatan ini segaja dibuat agar para turis bisa merasakan langsung ketinggian di atas pohoh-pohon besar yang biasanya hanya dilakukan oleh orangutan.

Ibarat menyeberangi jembatan gantung, jembatan ini juga akan menguji nyali para turis karena tingginya dan bergoyang saat melewatinya. “Ini juga baru beberapa tahun yang lalu dibangun dan dari jembatan ini kita bisa lihat langsung sangkar-sangkar yang dibangun orangutan,” kata pemandu saat menunjukkan sangkar tempat tinggal orangutan yang berada di atas pohon.

Setelah beberapa menit melewati jembatan,  akhirnya yang ditunggu pun muncul. Sosok orangutan yang diberi nama Pesek muncul di hadapan Tim. Walau mulanya agak malu-malu, Pesek akhirnya mendekat ketika melihat pemandu mengeluarkan pisang dalam tas. Pelan tapi pasti Pesek langsung menangkap pisang dan mengupasnya serta melahap pisang tersebut. Tak hanya pemandu, Tim juga mencoba berinteraksi dengan Pesek serta memberikannya pisang.

“Lucu ya, saya mau coba juga memberikan pisang,” kata salah satu Tim.

Setelah cukup banyak mendokumentasikan orangutan tersebut, perjalananpun  berakhir di sungai nan jernih. Capek dan penatnya perjalanan menelusuri hutan terbalas dengan dinginya air sungai saat mandi.

Apabila para turis ingin mengunjungi tempat penangkaran orangutan di kawasan wisata alam Bukit Lawang ini,  dapat menempuh dengan berjalan kaki dan menyusuri sungai dengan jarak tempuh waktu +/- 20 menit.

Setelah itu, bisa melanjutkan perjalanan menyeberangi sungai dengan menggunakan perahu kecil yang bertali.  Sebagai informasi tambahan, tempat pusat penangkaran orangutan ini dibuka dua sesi, yaitu pada pukul 09.00 WIB s/d 10.00 WIB dan untuk sesi kedua dibuka pada pukul 15.00 WIB s/d 16.00 WIB.

Selain segarnya mandi-mandi di Sungai Bahorok dengan pondok-pondok di tepi sungainya dan melihat langsung hewan endemik orangutan, Bukit Lawang juga memiliki gua yang bisa memberikan kita sensasi petualangan di liang gelap nan dalam.

Gua ini dinamakan Gua Kampret karena gua ini dihuni oleh ribuan binatang Kampret. Kampret-kampret ini bergantung tenang dan tak bergerak di langit-langit gua. Untuk menuju ke gua ini harus lebih dulu menempuh perjalanan sekitar setengah kilo meter dari dalam hutan hujan tropis Leuser. Selama perjalanan menyusuri dalam gua pengunjung akan bertemu dengan Kampret yang bergantungan. Tentu merupakan sensasi pengalaman yang mengasikkan bukan ? (*)

Tags
Lihat Lainnya

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close