BudayaSumut Melalak

Mandi Balimau, Tradisi Melayu Sambut Ramadhan

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu umat muslim. Berbagai upacara penyambutannya pun dilakukan hampir di seluruh dunia

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu umat muslim. Berbagai upacara penyambutannya pun dilakukan hampir di seluruh dunia, tidak terkecuali Indonesia. Indonesia yang memiliki kurang lebih 1.340 suku bangsa punya cara tersendiri menyambut bulan suci.

Di Sumatera Utara, khususnya suku Melayu punya tradisi menyambut Bulan Ramadhan dengan kegiatan Mandi Balimau. Tradisi ini hakikatnya adalah untuk membersihkan diri sebelum memulai puasa di bulan Ramadhan.

Ritual ini bukan hanya dilakukan oleh masyarakat Melayu di Sumatera Utara, tetapi hampir semua suku Melayu di Indonesia. Hanya saja mungkin ada sedikit perbedaan dari tata cara atau juga bahan-bahan yang digunakan, namun esensinya tetapi sama, membersihkan diri sebelum Bulan Ramadhan.

Pada Bulan Ramadhan 1439 Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 2018 kalender Masehi kelompok masyarakat Melayu Medan kembali melakukan tradisi yang sudah berusia ratusan tahun ini. Tepatnya hari Minggu 13 Mei mereka berbondong-bondong mendatangi salah satu sungai di Dusun Suka Hilir, Kecamatan Namorambe. Tempat ini dipilih karena memiliki sungai yang cukup besar dan masih tergolong bersih.

Walau dari namanya, Balimau atau Berlimau yang berarti menggunakan limau. Namun, dalam prakteknya bahan-bahan yang digunakan tidak hanya limau bahkan untuk limaunya saja ada beberapa jenis seperti limau betina dan jantan, limau pagar dan limau kuku harimau. Kemudian ada juga dedaunan dan bunga seperti daun hanjuang, ganda rusa, kenanga dan bunga rampai di tambah dengan bertih.

Ada yang spesial dari bahan-bahan Mandi Balimau yaitu air bidara. Ini adalah air pangir yang dicampur dengan daun bidara. Mengapa daun bidara? Daun yang satu ini dipercaya oleh suku Melayu sebagai tangkal untuk sihir atau guna-guna. Ini bukan tidak beralasan karena daun bidara atau dalam bahasa Arab sidr disebutkan di dalam Al-Qur’an tepatnya di surat As-Saba ayat 16.

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

Yang artinya: Kami ganti kedua kebun mereka dengan kedua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit pohon sidr (bidara).”

(Q.S. As-Saba, 16)

Kemudian Surat Al-Waqiah ayat 27-33:

وَأَصۡحَٰبُ ٱلۡيَمِينِ مَآ أَصۡحَٰبُ ٱلۡيَمِينِ

27.Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu.

فِي سِدۡرٍ مَّخۡضُودٍ

28.Berada di antara pohon bidara yang tak berduri,

وَطَلۡحٍ مَّنضُودٍ

29.dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya),

وَظِلٍّ مَّمۡدُودٍ

30.dan naungan yang terbentang luas,

وَمَآءٍ مَّسۡكُوبٍ

31.dan air yang tercurah,

وَفَٰكِهَةٍ كَثِيرَةٍ

32.dan buah-buahan yang banyak,

لَّا مَقۡطُوعَةٍ وَلَا مَمۡنُوعَةٍ

33.yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang

Tidak hanya di Al-Qur’an, di dalam beberapa hadist juga diterangkan manfaat daun bidara seperti untuk campuran mandi wanita setelah haid, memandikan jenazah, mengobati luka goresan dan luka bakar ringan dan masih banyak lagi.

Bahan-bahan tadi kemudian dicampur dengan air. Air inilah nantinya akan dimandikan kepada peserta Mandi Balimau secara bergantian. Niatnya, agar semua yang dimandikan dengan air yang sudah di campur ini bersih dan wangi sebelum berpuasa di bulan Ramadhan. Untuk yang memandikannya sendiri haruslah seseorang yang dituakan atau yang dihormati. Pada kesempatan kali ini diberikan kepada Direktur Kajian Puak Melayu, Muhar Omtatok.

Setelah selesai dimandikan dengan air yang dicampur bahan-bahan tadi, peserta kemudian diberi dua limau – limau jantan dan betina. Limau ini digunakan seperti sabun, membersihkan seluruh tubuh sambil mandi di sungai.

Tradisi ini di Medan tampaknya mulai tergerus, terlihat dari jumlah peserta yang datang pada acara Mandi Balimau kali ini, hanya sekitar 20 orang. Tetapi, dengan terus dilakukannya kegiatan seperti ini Mandi Balimau tidak akan dilupakan masyarakat Melayu seperti harapan Muhar Omtatok.

“Tiap tahun kita melakukan ritual ini agar tidak tergerus jaman, kita terus berusaha menjaganya dengan cara seperti ini,”ujarnya.(*)

Tags
Lihat Lainnya

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close