Berita Daerah

Keripik Singkong Sumut Tembus Pasar Korea

Hasil olahan singkong atau ubi asal Provinsi Sumatera Utara (Sumut) telah mampu menembus pasar Negeri Ginseng. Bahkan olahan makanan dari usaha keripik ubi Kreasi Luvti ini sangat digemari di kalangan warga Korea Selatan

DELISERDANG- Hasil olahan singkong atau ubi asal Provinsi Sumatera Utara (Sumut) telah mampu  menembus pasar Negeri Ginseng. Bahkan olahan makanan dari  usaha keripik ubi Kreasi Luvti  ini sangat digemari  di kalangan warga Korea Selatan dan juga Malaysia. Saat ini lidah mereka pun sudah terbiasa dengan penganan asal Sumut ini.

Muhdi S.Ag merupakan pemilik usaha Keripik Ubi Kreasi Lutvi. Awalnya dirinya merintis usaha keripik singkong bersama istrinya pada tahun 1998. Ketika itu dia hanya memproduksi lebih kurang sebanyak 10 Kg s/d 30 Kg per hari dengan pemasaran masih dilakukan secara door to door ke kantin sekolah dan warung yang berada di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka.

Seiring berjalannya waktu dan permintaan pasar akan keripik singkong terus meningkat, maka pada tahun 1999, Muhdi dan istrinya memutuskan untuk pindah dan menyewa rumah dan lahan kosong di daerah Tuntungan dikarenakan tempat tinggal tidak lagi memadai.

Pun begitu, siapa sangka di balik kesuksesan besar pemilik usaha kripik ubi Kreasi Luvti ini juga memiliki kisah pilu. Usaha keripik singkong yang dirintis Muhdi S.Ag  ini ternyata pernah jatuh, terseok-seok bahkan hampir gulug tikar.

Untungnya disaat yang tepat, Pemerintah Provinsi Sumut melalui Dinas Tenaga Kerja Provsu datang dan memberikan motivasi berupa pelatihan kewirausahaan, pelatihan peningkatan provduktivitas  dan berbagai kosultasi kepada UKM yang beralamat di Jalan Lapangan Golf, Tuntungan II, Pancur Batu Deli Serdang ini.

Dari situlah usaha Muhdi S.Ag yang merupakan perantau dari Magelang-Jawa Tengah  ini  mulai berkembang kembali sampai- sampai  masuk pasar luar negeri yakni Korea dan Malaysia.

Di tangan Muhdi,  ubi kayu sangat bernilai ekonomi tinggi. Muhdi mengubah ubi menjadi keripik bermutu tinggi yang kini produknya tidak hanya digemari oleh warga Medan sekitarnya, tapi juga laris manis hingga ke Korea dan Malaysia.  Bahkan, kulit ubi yang sudah jadi limbah dapat diolah dan dinikmati oleh ternak lembu sehingga tetap dapat mendatangkan surplus bagi Muhdi.

Dalam menjalankan usahanya, Muhdi memanfaatkan areal rumahnya sebagai tempat usaha. Hal itu menurutnya, agar dapat dengan mudah untuk mengontrol dan hemat anggaran.  “Sengaja kita produksi di rumah agar mudah mengontrolnya,” ujar ayah dengan tiga orang anak ini.

Suami dari Nuril Hidayati ini dalam sehari-harinya, selain menjadi pengusaha keripik juga pernah menjadi guru dan sering menjadi trainer untuk memotivasi masyarakat agar mau berwirausaha.

Alumni IAIN Sumatera Utara ini mengatakan, 80 persen proses pengerjaan keripiknya masih dilakukan secara tradisional. Seperti  proses penggorengan juga pengupasan dan lainnya. Selain itu, Ia juga menggunakan bahan bakar dari kayu. Menurutnya kayu bakar akan membuat proses pemasakan keripik menjadi lebih rata dan wangi.

Berkat kerja kerasnya dalam mengelola usaha keripik, saat ini Muhdi telah memperoleh beberapa penghargaan seperti dari Dinas perindustrian, Kementerian Koperasi, Kementerian Pertanian dan penghargaan dari Presiden RI dan Gubernur Sumut.(*)

Tags
Lihat Lainnya

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close