BudayaPeristiwa

INACRAFT 2018, Pamerkan Kemegahan Sumut

Jakarta Trade Fair of Handicraft Industry (INACRAFT) merupakan event yang ditunggu-tunggu para pengerajin dari seluruh Indonesia

JAKARTA- Jakarta Trade Fair of Handicraft Industry (INACRAFT) merupakan event  yang ditunggu-tunggu para pengerajin dari seluruh Indonesia. Dalam kegiatan tahunan ini, para pengerajin mendapatkan kesempatan besar untuk memperkenalkan hasil karyanya langsung kepada konsumen baik dari dalam maupun luar negeri.

Asosiasi Eksportir dan Produsen Handycraft Indonesia (ASEPHI) sebagai penyelenggara memilih Sumatera Utara untuk menjadi ikon INACRAFT 2018 yang ke-20. Untuk kali ini, ASEPHI memberikan kesempatan lebih luas kepada Sumut sebagai ikon. Bahkan dalam pameran ini dialokasikan 57 stand dan satu pavilion besar khusus untuk Sumatera Utara.

Vice Chairman Corporation and Promotion ASEPHI, Gumardi Bustami mengatakan, pemilihan Sumatera Utara sebagai ikon untuk mengenalkan Sumut yang selama sudah lebih dikenal karena destinasi wisatanya.

Pantia memilih tema The Loftimess of Nort Sumatera dengan tujuan untuk memamerkan kemegahan yang ada di Sumut. Aura kemegahan yang dipamerkan dapat terlihat jelas ketika pengunjung memasuki pintu utama. Di mana ornament dan symbol-simbol Sumut terlihat memenuhi pintu masuk.

Secara umum, event yang berlangsung di Jakarta Convention Centre, Senayan, Jakarta ini memamerkan sebanyak 1.410 stand yang diisi dengan 1.700 perusahaan dari berbagai daerah Indonesia. Tak hanya itu bahkan ada juga peserta yang berasal dari luar negeri salah satunya Jepang. Stand-stand ini dibagi rata dan khusus bagi yang diberi kesempatan sebagai ikon mendapat porsi yang jauh lebih besar.

Jakarta Convention Centre (JCC) yang menjadi tempat diselenggarakannya INACRAFT 2018 disusun sedemikian rupa sehingga penuh dan padat dengan stand-stand dari setiap daerah. Walau luas JCC 120.000M2 pantia sukses menyulapnya menjadi tempat yang membuat pengunjung tidak akan lelah mengitarinya apalagi dengan suguhan karya-karya tangan unik dari setiap daerah.

Di salah satu blok stand Sumatera Utara pengunjung yang melintasinya akan serasa dapat menikmati miniatur Sumut. Selain itu juga karya-karya kerajinan dari setiap daerah juga dipamerkan, seperti Medan, Karo, Pakpak, Simalungun, Nias, Humbang Hasundutan, Toba dan lain sebagainya.

Sementara pada paviliun Sumut sendiri ditampilkan karya utama seperti lukisan dari kopi, abu vulkanik, bubuk teh, ijuk dan serabut kelapa. Selain itu juga ada ukiran khas Samosir yang begitu memikat serta baju adat yang dimodifikasi sedemikian rupa untuk mengikuti perkembangan jaman. Setiap harinya karya-karya di paviliun Sumut terus diganti untuk memberikan kesempatan kepada pengerajin lainnya. Tentu ini memberikan kesempatan besar kepada pengerajin-pengerajin Sumut untuk mempromosikan karyanya.

Seperti diketahui ASEPHI menggelar kegiatan ini dengan tujuan untuk mengembangkan hasil kerajinan Indonesia dan membantu komoditas ini kuat di domestik dan bisa memasuki level internasional. ASEPHI sudah memulai ini sejak 1999 dan seiring waktu berjalan seluruh anggota bergantian menjadi ikon event ini.

Gubernur Sumatera Utara yang hadir bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla sangat berharap pengerajin-pengerajin Sumut memaksimalkan kesempatan ini untuk mempromosikan karya-karya mereka. Pasalnya, di ajang ini sangat banyak sekali buyer dalam dan luar negeri. Dari laporan ASEPHI ada 1056 buyer dari luar negeri (meningkat 39,68% dari tahun lalu) yang hadir di INACRAFT 2018. Bahkan hingga hari kelima total pengunjung mencapai 169.000 orang, naik 1,08% dari tahun sebelumnya, INACRAFT butuh 31.000 pengunjung lagi untuk mencapai target mereka tahun ini yakni 200.000 pengunjung.

Transaksi selama lima hari di INACRAFT 2018 juga cukup mencengangkan, untuk ritail mencapai Rp139,7 miliar, naik 2,7% dari tahun lalu. Sedangkan untuk transaksi ekspor mencapai angka 12,1 juta USD (sekitar Rp171 miliar) meningkat 8,9% dari tahun lalu.

“Saya berharap pengerajin dan seniman Sumut bisa memanfaatkan kesempatan ini semaksimal mungkin. Bayangkan berapa buyer yang datang, dari luar negeri ada 1.056 pengunjung belum lagi dari delam negeri. Ini bisa menjadi salah satu pendorong ekonomi Sumut,”

Di sisi lain, even ini juga tidak hanya menampilkan karya kerajinan, namun pengunjung juga dihibur dengan tarian dan lagu-lagu yang berasal dari Sumut. Pengunjung terlihat terpukau dengan sajian seni ini, tak jarang mereka ikut menari dan bernyanyi bersama. Ini juga tentu membuat pengunjung yang memiliki kenangan dengan Sumut akan rindu dengan negeri berbilang kaum ini.(*)

Tags
Lihat Lainnya

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close